Hilangkan Kejenuhan, Asyiknya Belajar Di Tengah Hutan

Pandemi Covid-19 yang melanda Kabupaten Probolinggo berdampak pada semua sendi kehidupan. Menyikapi pandemi, pemuda di Dusun Curah Kates, Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan punya terobosan Teras Belajar Ceria (Teberia).

399

 

KRAKSAAN-ONLINE.ID | KREJENGAN, Pandemi Covid-19 yang melanda Kabupaten Probolinggo berdampak pada semua sendi kehidupan. Menyikapi pandemi, pemuda di Dusun Curah Kates, Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan punya terobosan Teras Belajar Ceria (Teberia).

Uniknya, terobosan yang sudah berjalan sejak sebulan terkahir itu dilakukan di alam terbuka di desa sekitar setiap akhir pekan. Dengan program belajar mengajar ketika anak-anak sudah jarang bersentuhan langsung dengan para guru di sekolahnya masing-masing karena masa pandemi Covid-19.

Proses pembelajaran Teberia, sekitar 50 anak dari desa setempat sangat antusias mengikuti program itu. Keunikannya, selain pembelajaran tatap muka itu tidak formal, puluhan anak-anak tidak hanya mendapat pelajaran. Mereka juga bisa menikmati suasana alam sekitarnya.

Belajar sambil menikmati suasana alam agar tak muluk-muluk jenuh dan bosan. Puluhan anak tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-kanak (TK) itu harus melewati sungai sekitar untuk sampai ke tempat belajarnya.

Begitu pula saat proses belajar mengajar berlangsung, meskipun dengan alat seadanya, seperti papan tulis kecil dan spidol, serta beralaskan daun kering pohon kesambi. Mereka tetap terlihat kompak dan ceria menikmati pelajaran yang diberikan.

Ketua Asosiasi Pemuda Inspiratif Curahkates, Samiudin mengatakan, terobosan belajar di alam terbuka tepatnya di hutan rimba lestari milik perhutani bermula ketika anggota komunitasnya merasa selama pandemi Covid-19 melanda, tak sedikit anak-anak berkurang menyerap ilmu pengetahuan di sekolahnya.

Sehingga, kata dia, anggota komunitas berjumlah 30 orang itu berinisiatif membuat terobosan dengan cara berbeda. Agar, anak-anak tetap merasa asyik dan tidak bosan maka belajar di alam terbuka solusinya. Alhasil, setiap proses pembelajaran tak pernah kurang dari 50 anak yang hadir setiap pekannya.

“Kami anggota komunitas berasal dari Desa Opo-opo semuanya. Begitu pula dengan anak-anaknya ini juga berasal dari Dusun Curahkates. Program kita memang sekolah alam, karena pandemi ini sangat lama, sehingga dampaknya pendidikan di daerah kami merosot,” kata Samiudin.

Sehingga, lanjut Samiudin, komunitas kemudian mencari inovasi agar kirianya anak-anak di dusun sekitar tetap bisa menyerap ilmu tapi dengan terobosan berbeda di luar sekolah. Sekiranya, selain mengikuti pelajaran, mereka juga bermain sehingga tidak merasa tertekan ataupun jenuh.

“Hemat kami, belajar sambil bermain itu bisa lebih terserap edukasi yang kita datangkan ke mereka. Meski harus melewati sungai dengan jarak tertentu dari rumah, alhamdulilah terbiasa karena memang sudah berjalan sejak satu bulan, tapi tetap kami awasi saja ketika lagi menyeberang,” ungkap Samiudin.

Penikmat Terobosan Teberia, Moh Bayu Pratama mengatakan, belajar di alam terbuka jauh berbeda jika dibandingkan dengan belajar di kelas. Sebab, selain tidak cepat bosan dan jenuh, belajar sambil menikmati suasana sejuk itu meski tetap harus fokus juga tetap bisa bermain sama-sama teman sebayanya.

“Iya, tidak bosan kalau belajar di sini, tidak takut juga kalaupun harus lewat sungai. Senang sekali belajar di sini. Kalau cita-cita saya ingin jadi polisi,” tutur bocah yang saat ini duduk di bangku kelas 5 SD itu sambil tersipu malu.

Sementara itu, Kepala Desa Opo-opo, Didik Sugianto mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi adanya terobosan kepada anak-anak sekitar dari warganya sendiri. Oleh karenanya, pemerintah desa siap memfasilitasi apapun yang dibutuhkan agar program itu terus berjalan.

“Memang kita akui, karena faktor pandemi ini, sebagai warga negara yang baik tentunya tetap mengikuti semua anjuran pemerintah dan dengan adanya terobosan ini, kami bersyukur karena masih ada yang peduli dalam segi pendidikan. Oleh karena itu kami selaku pemerintah desa selalu siap memfasilitasi,” tutur Didik.(*)

Anda mungkin juga berminat